Goodnovles has run 705 Facebook and Instagram ads tracked since Apr 16, 2026, with 0 active right now, mostly targeting Worldwide. Their latest ad launched on May 26, 2026.

Goodnovles

Goodnovles

🛋️ Home and garden书籍
Meta Ad Library
Ads in library
705
Active now
0
Video ads
8
among ads with previews
First ad seen
Apr 16, 2026
205 days of history
Page likes
700
Countries
1

Ad launches by month

New ads started in each of the last 12 months

0
Dec
0
Jan
0
Feb
0
Mar
124
Apr
581
May
0
Jun
0
Jul
0
Aug
0
Sep
0
Oct
0
Nov

Top countries

Where these ads were targeted

🏳️ Worldwide1

Creative formats

Video8

Calls to action

See details8

Landing domains

fixcm.com8

Latest Goodnovles ads

705 ads tracked since Apr 16, 2026

Goodnovles
Goodnovles
Inactive2 days
fixcm.com
Attention! Do not read in public places!
See details

"Sis, tolong bantu aku puasin suamiku, aku benar-benar sudah nggak tahan lagi." Istriku belakangan ini tidak sanggup menahan gempuran dariku, dia menangis lalu lari mencari sahabatnya untuk mengadu. Demi meredakan hubungan antara aku dan istriku, sahabatnya datang sendirian ke rumahku. Dia mengenakan gaun pendek ketat yang seksi, lekuk dadanya tampak jelas menonjol. "Dengar-dengar kamu ganas sekali, ya? Biar kucoba dulu, besar atau nggak." Bab 1 Namaku Wira. Memasuki usia pernikahan tahun kelima, tubuhku tiba-tiba mengalami pubertas kedua. Ukuran kemaluanku jadi sangat besar dan hasratku juga semakin menggelora. Setiap hari, aku bisa meminta jatah tujuh sampai delapan kali. Awalnya, istriku sangat gembira melihat perubahanku. Setiap malamnya, dia sampai kelelahan setelah bersenang-senang. Namun perlahan-lahan, perkembanganku semakin besar dan istriku mulai tidak sanggup mengimbangiku. "Jangan masukkin lagi. Kalau dipaksa terus bakal meledak, nih." Istriku memohon sambil menangis kepadaku. Akan tetapi, aku benar-benar menderita menahan nafsu. Kemudian, aku pun mendorongnya dengan paksa ke dinding. Akhirnya, hari ini dia tidak sanggup lagi menahan semua ini. Dia menangis meraung-raung meminta cerai dariku. Aku tidak menyetujuinya, sehingga dia minggat dan menginap di rumah sahabatnya selama beberapa hari. Aku benar-benar menderita menahan diri. Selama seharian, aku terus merasa kemaluanku sangat keras hingga tidak bertahan lagi. Saat sahabatnya mendengar perubahanku ini, dia jadi sangat tertarik. Demi memperbaiki hubungan pernikahan kami, dia berinisiatif datang ke rumahku untuk menasihatiku. Ketika dia datang malam itu, aku sedang tersiksa karena menahan hasrat. Bel pintu berbunyi. Aku mengira istriku akhirnya pulang. Gelora yang telah kutahan selama berhari-hari akhirnya bisa kulampiaskan dengan sepuasnya. Namun, baru saja pintu dibuka, orang yang berdiri di luar ternyata adalah sahabatnya, Bilqis. Dia mengenakan gaun terusan seksi berwarna hitam. Payudaranya yang besar dan montok itu tampak begitu menggoda. Rok itu hampir tidak menutupi bagian atas pahanya, kakinya yang panjang dan ramping terbungkus stoking hitam, memperlihatkan area di mana pinggiran renda hitam bertemu dengan kulitnya. Mataku terbelalak menatapnya. Tubuhku langsung bereaksi. Tadinya kukira yang pulang itu adalah istriku, sehingga aku hanya mengenakan celana pendek yang longgar. Bagian depan celanaku tampak menggembung dan ukurannya sangat besar. Melihat hal itu, Bilqis langsung terperangah. "Kamu benaran lagi puber kedua, ya! Ukurannya lebih besar dari botol bir!" Sebenarnya, Bilqis adalah seorang wanita yang hasratnya tidak terpenuhi dengan puas. Penampilannya tampak memesona, tetapi dia malah menikah dengan seorang pria tua yang kaya. Dengar-dengar dari istriku, pria tua itu terlalu semena-mena saat masih muda. Oleh karena itu, sekarang fungsi tubuhnya telah menurun drastis dan sama sekali tidak bisa memuaskan Bilqis. Alhasil, Bilqis sekarang sering menghamburkan uang untuk mencari model pria. Aku melambaikan tangan menyuruhnya masuk. Dia duduk di sofa dengan satu kaki yang terangkat. Dasar sepatu hak tingginya yang berwarna merah membuatnya tampak semakin menawan. "Bilqis, kenapa kamu datang ke sini? Mana istriku?" tanyaku sambil menuangkan segelas air dan menyerahkannya kepada Bilqis. Dia minum seteguk air, lalu berkata padaku, "Kamu sih, kuatnya kebangetan. Sampai sekarang Shila masih nggak berani pulang." "Hari ini aku datang untuk nasihati kamu. Jangan terlalu kuat setiap kali berhubungan. Shila itu wanita lembut, mana bisa tahan sama kekuatanmu itu." Saat minum, dadanya bergoyang ke atas dan ke bawah. Payudaranya yang montok itu bergetar dengan hebat. Darahku mendidih melihat pemandangan itu. Ukuran payudaranya lebih besar dari punya istriku. Ingin sekali rasanya aku meremasnya sekali. Aku menghela napas, lalu duduk di seberang Bilqis. "Bukannya aku terlalu bertenaga. Sejak puber kedua ini, aku jadi kepengin terus. Kalau nggak disalurkan sehari saja, rasanya tersiksa sekali." Seketika, Bilqis menjadi penasaran dan mendekatkan tubuhnya. "Pria punya puber kedua ya? Kalau begitu, apa ukuranmu itu jadi lebih besar dari sebelumnya? Boleh nggak aku lihat?" Bilqis menatapku dengan tulus, tidak terlihat seperti sedang berbohong. Hatiku berdegup kencang. Apa Bilqis ini nggak terlalu berani, ya? Memangnya benda begituan bisa ditunjukkan sembarangan? "I ... ini rasanya nggak baik deh," ucapku dengan gugup. Namun, dalam hatiku sudah kacau balau. Bilqis berujar dengan santai, "Kenapa takut sih ditunjukkan sama aku? Punyamu ini termasuk keajaiban. Aku cuma pengin melihatnya langsung sendiri." Berhubung dia terus-menerus memintanya, aku pun tidak lagi menahan diri. Di hadapannya, aku menanggalkan celanaku perlahan-lahan. Belum pernah aku menunjukkan tubuh bagian bawahku kepada wanita lain. Perasaan ini benar-benar seru. Ditatap dengan sorot mata yang berkobar seperti itu, entah mengapa aku merasa diriku semakin perkasa. Sesuai dugaan, Bilqis memang wanita yang sering bersenang-senang dengan model pria. Menghadapi situasi seperti ini, dia tetap bisa mengendalikan diri dan bahkan menunjukkan sedikit hasratnya. Dia menelan ludah dan memujiku, "Pertumbuhanmu besar sekali ya, lebih besar dari semua model pria yang pernah kupesan. Punyammu ini benaran nggak? Aku boleh pegang sebentar?" AKu sama sekali tidak menyangka dia akan mengajukan permintaan seperti itu. Seketika, hatiku jadi terasa antusias dan akhirnya aku mengangguk menyetujuinya.

Goodnovles
Goodnovles
Inactive2 days
fixcm.com
Attention! Do not read in public places!
See details

"Sis, tolong bantu aku puasin suamiku, aku benar-benar sudah nggak tahan lagi." Istriku belakangan ini tidak sanggup menahan gempuran dariku, dia menangis lalu lari mencari sahabatnya untuk mengadu. Demi meredakan hubungan antara aku dan istriku, sahabatnya datang sendirian ke rumahku. Dia mengenakan gaun pendek ketat yang seksi, lekuk dadanya tampak jelas menonjol. "Dengar-dengar kamu ganas sekali, ya? Biar kucoba dulu, besar atau nggak." Bab 1 Namaku Wira. Memasuki usia pernikahan tahun kelima, tubuhku tiba-tiba mengalami pubertas kedua. Ukuran kemaluanku jadi sangat besar dan hasratku juga semakin menggelora. Setiap hari, aku bisa meminta jatah tujuh sampai delapan kali. Awalnya, istriku sangat gembira melihat perubahanku. Setiap malamnya, dia sampai kelelahan setelah bersenang-senang. Namun perlahan-lahan, perkembanganku semakin besar dan istriku mulai tidak sanggup mengimbangiku. "Jangan masukkin lagi. Kalau dipaksa terus bakal meledak, nih." Istriku memohon sambil menangis kepadaku. Akan tetapi, aku benar-benar menderita menahan nafsu. Kemudian, aku pun mendorongnya dengan paksa ke dinding. Akhirnya, hari ini dia tidak sanggup lagi menahan semua ini. Dia menangis meraung-raung meminta cerai dariku. Aku tidak menyetujuinya, sehingga dia minggat dan menginap di rumah sahabatnya selama beberapa hari. Aku benar-benar menderita menahan diri. Selama seharian, aku terus merasa kemaluanku sangat keras hingga tidak bertahan lagi. Saat sahabatnya mendengar perubahanku ini, dia jadi sangat tertarik. Demi memperbaiki hubungan pernikahan kami, dia berinisiatif datang ke rumahku untuk menasihatiku. Ketika dia datang malam itu, aku sedang tersiksa karena menahan hasrat. Bel pintu berbunyi. Aku mengira istriku akhirnya pulang. Gelora yang telah kutahan selama berhari-hari akhirnya bisa kulampiaskan dengan sepuasnya. Namun, baru saja pintu dibuka, orang yang berdiri di luar ternyata adalah sahabatnya, Bilqis. Dia mengenakan gaun terusan seksi berwarna hitam. Payudaranya yang besar dan montok itu tampak begitu menggoda. Rok itu hampir tidak menutupi bagian atas pahanya, kakinya yang panjang dan ramping terbungkus stoking hitam, memperlihatkan area di mana pinggiran renda hitam bertemu dengan kulitnya. Mataku terbelalak menatapnya. Tubuhku langsung bereaksi. Tadinya kukira yang pulang itu adalah istriku, sehingga aku hanya mengenakan celana pendek yang longgar. Bagian depan celanaku tampak menggembung dan ukurannya sangat besar. Melihat hal itu, Bilqis langsung terperangah. "Kamu benaran lagi puber kedua, ya! Ukurannya lebih besar dari botol bir!" Sebenarnya, Bilqis adalah seorang wanita yang hasratnya tidak terpenuhi dengan puas. Penampilannya tampak memesona, tetapi dia malah menikah dengan seorang pria tua yang kaya. Dengar-dengar dari istriku, pria tua itu terlalu semena-mena saat masih muda. Oleh karena itu, sekarang fungsi tubuhnya telah menurun drastis dan sama sekali tidak bisa memuaskan Bilqis. Alhasil, Bilqis sekarang sering menghamburkan uang untuk mencari model pria. Aku melambaikan tangan menyuruhnya masuk. Dia duduk di sofa dengan satu kaki yang terangkat. Dasar sepatu hak tingginya yang berwarna merah membuatnya tampak semakin menawan. "Bilqis, kenapa kamu datang ke sini? Mana istriku?" tanyaku sambil menuangkan segelas air dan menyerahkannya kepada Bilqis. Dia minum seteguk air, lalu berkata padaku, "Kamu sih, kuatnya kebangetan. Sampai sekarang Shila masih nggak berani pulang." "Hari ini aku datang untuk nasihati kamu. Jangan terlalu kuat setiap kali berhubungan. Shila itu wanita lembut, mana bisa tahan sama kekuatanmu itu." Saat minum, dadanya bergoyang ke atas dan ke bawah. Payudaranya yang montok itu bergetar dengan hebat. Darahku mendidih melihat pemandangan itu. Ukuran payudaranya lebih besar dari punya istriku. Ingin sekali rasanya aku meremasnya sekali. Aku menghela napas, lalu duduk di seberang Bilqis. "Bukannya aku terlalu bertenaga. Sejak puber kedua ini, aku jadi kepengin terus. Kalau nggak disalurkan sehari saja, rasanya tersiksa sekali." Seketika, Bilqis menjadi penasaran dan mendekatkan tubuhnya. "Pria punya puber kedua ya? Kalau begitu, apa ukuranmu itu jadi lebih besar dari sebelumnya? Boleh nggak aku lihat?" Bilqis menatapku dengan tulus, tidak terlihat seperti sedang berbohong. Hatiku berdegup kencang. Apa Bilqis ini nggak terlalu berani, ya? Memangnya benda begituan bisa ditunjukkan sembarangan? "I ... ini rasanya nggak baik deh," ucapku dengan gugup. Namun, dalam hatiku sudah kacau balau. Bilqis berujar dengan santai, "Kenapa takut sih ditunjukkan sama aku? Punyamu ini termasuk keajaiban. Aku cuma pengin melihatnya langsung sendiri." Berhubung dia terus-menerus memintanya, aku pun tidak lagi menahan diri. Di hadapannya, aku menanggalkan celanaku perlahan-lahan. Belum pernah aku menunjukkan tubuh bagian bawahku kepada wanita lain. Perasaan ini benar-benar seru. Ditatap dengan sorot mata yang berkobar seperti itu, entah mengapa aku merasa diriku semakin perkasa. Sesuai dugaan, Bilqis memang wanita yang sering bersenang-senang dengan model pria. Menghadapi situasi seperti ini, dia tetap bisa mengendalikan diri dan bahkan menunjukkan sedikit hasratnya. Dia menelan ludah dan memujiku, "Pertumbuhanmu besar sekali ya, lebih besar dari semua model pria yang pernah kupesan. Punyammu ini benaran nggak? Aku boleh pegang sebentar?" AKu sama sekali tidak menyangka dia akan mengajukan permintaan seperti itu. Seketika, hatiku jadi terasa antusias dan akhirnya aku mengangguk menyetujuinya.

Goodnovles
Goodnovles
Inactive3 days
fixcm.com
Attention! Do not read in public places!
See details

"Sis, tolong bantu aku puasin suamiku, aku benar-benar sudah nggak tahan lagi." Istriku belakangan ini tidak sanggup menahan gempuran dariku, dia menangis lalu lari mencari sahabatnya untuk mengadu. Demi meredakan hubungan antara aku dan istriku, sahabatnya datang sendirian ke rumahku. Dia mengenakan gaun pendek ketat yang seksi, lekuk dadanya tampak jelas menonjol. "Dengar-dengar kamu ganas sekali, ya? Biar kucoba dulu, besar atau nggak." Bab 1 Namaku Wira. Memasuki usia pernikahan tahun kelima, tubuhku tiba-tiba mengalami pubertas kedua. Ukuran kemaluanku jadi sangat besar dan hasratku juga semakin menggelora. Setiap hari, aku bisa meminta jatah tujuh sampai delapan kali. Awalnya, istriku sangat gembira melihat perubahanku. Setiap malamnya, dia sampai kelelahan setelah bersenang-senang. Namun perlahan-lahan, perkembanganku semakin besar dan istriku mulai tidak sanggup mengimbangiku. "Jangan masukkin lagi. Kalau dipaksa terus bakal meledak, nih." Istriku memohon sambil menangis kepadaku. Akan tetapi, aku benar-benar menderita menahan nafsu. Kemudian, aku pun mendorongnya dengan paksa ke dinding. Akhirnya, hari ini dia tidak sanggup lagi menahan semua ini. Dia menangis meraung-raung meminta cerai dariku. Aku tidak menyetujuinya, sehingga dia minggat dan menginap di rumah sahabatnya selama beberapa hari. Aku benar-benar menderita menahan diri. Selama seharian, aku terus merasa kemaluanku sangat keras hingga tidak bertahan lagi. Saat sahabatnya mendengar perubahanku ini, dia jadi sangat tertarik. Demi memperbaiki hubungan pernikahan kami, dia berinisiatif datang ke rumahku untuk menasihatiku. Ketika dia datang malam itu, aku sedang tersiksa karena menahan hasrat. Bel pintu berbunyi. Aku mengira istriku akhirnya pulang. Gelora yang telah kutahan selama berhari-hari akhirnya bisa kulampiaskan dengan sepuasnya. Namun, baru saja pintu dibuka, orang yang berdiri di luar ternyata adalah sahabatnya, Bilqis. Dia mengenakan gaun terusan seksi berwarna hitam. Payudaranya yang besar dan montok itu tampak begitu menggoda. Rok itu hampir tidak menutupi bagian atas pahanya, kakinya yang panjang dan ramping terbungkus stoking hitam, memperlihatkan area di mana pinggiran renda hitam bertemu dengan kulitnya. Mataku terbelalak menatapnya. Tubuhku langsung bereaksi. Tadinya kukira yang pulang itu adalah istriku, sehingga aku hanya mengenakan celana pendek yang longgar. Bagian depan celanaku tampak menggembung dan ukurannya sangat besar. Melihat hal itu, Bilqis langsung terperangah. "Kamu benaran lagi puber kedua, ya! Ukurannya lebih besar dari botol bir!" Sebenarnya, Bilqis adalah seorang wanita yang hasratnya tidak terpenuhi dengan puas. Penampilannya tampak memesona, tetapi dia malah menikah dengan seorang pria tua yang kaya. Dengar-dengar dari istriku, pria tua itu terlalu semena-mena saat masih muda. Oleh karena itu, sekarang fungsi tubuhnya telah menurun drastis dan sama sekali tidak bisa memuaskan Bilqis. Alhasil, Bilqis sekarang sering menghamburkan uang untuk mencari model pria. Aku melambaikan tangan menyuruhnya masuk. Dia duduk di sofa dengan satu kaki yang terangkat. Dasar sepatu hak tingginya yang berwarna merah membuatnya tampak semakin menawan. "Bilqis, kenapa kamu datang ke sini? Mana istriku?" tanyaku sambil menuangkan segelas air dan menyerahkannya kepada Bilqis. Dia minum seteguk air, lalu berkata padaku, "Kamu sih, kuatnya kebangetan. Sampai sekarang Shila masih nggak berani pulang." "Hari ini aku datang untuk nasihati kamu. Jangan terlalu kuat setiap kali berhubungan. Shila itu wanita lembut, mana bisa tahan sama kekuatanmu itu." Saat minum, dadanya bergoyang ke atas dan ke bawah. Payudaranya yang montok itu bergetar dengan hebat. Darahku mendidih melihat pemandangan itu. Ukuran payudaranya lebih besar dari punya istriku. Ingin sekali rasanya aku meremasnya sekali. Aku menghela napas, lalu duduk di seberang Bilqis. "Bukannya aku terlalu bertenaga. Sejak puber kedua ini, aku jadi kepengin terus. Kalau nggak disalurkan sehari saja, rasanya tersiksa sekali." Seketika, Bilqis menjadi penasaran dan mendekatkan tubuhnya. "Pria punya puber kedua ya? Kalau begitu, apa ukuranmu itu jadi lebih besar dari sebelumnya? Boleh nggak aku lihat?" Bilqis menatapku dengan tulus, tidak terlihat seperti sedang berbohong. Hatiku berdegup kencang. Apa Bilqis ini nggak terlalu berani, ya? Memangnya benda begituan bisa ditunjukkan sembarangan? "I ... ini rasanya nggak baik deh," ucapku dengan gugup. Namun, dalam hatiku sudah kacau balau. Bilqis berujar dengan santai, "Kenapa takut sih ditunjukkan sama aku? Punyamu ini termasuk keajaiban. Aku cuma pengin melihatnya langsung sendiri." Berhubung dia terus-menerus memintanya, aku pun tidak lagi menahan diri. Di hadapannya, aku menanggalkan celanaku perlahan-lahan. Belum pernah aku menunjukkan tubuh bagian bawahku kepada wanita lain. Perasaan ini benar-benar seru. Ditatap dengan sorot mata yang berkobar seperti itu, entah mengapa aku merasa diriku semakin perkasa. Sesuai dugaan, Bilqis memang wanita yang sering bersenang-senang dengan model pria. Menghadapi situasi seperti ini, dia tetap bisa mengendalikan diri dan bahkan menunjukkan sedikit hasratnya. Dia menelan ludah dan memujiku, "Pertumbuhanmu besar sekali ya, lebih besar dari semua model pria yang pernah kupesan. Punyammu ini benaran nggak? Aku boleh pegang sebentar?" AKu sama sekali tidak menyangka dia akan mengajukan permintaan seperti itu. Seketika, hatiku jadi terasa antusias dan akhirnya aku mengangguk menyetujuinya.

Goodnovles
Goodnovles
Inactive2 days
fixcm.com
Attention! Do not read in public places!
See details

"Sis, tolong bantu aku puasin suamiku, aku benar-benar sudah nggak tahan lagi." Istriku belakangan ini tidak sanggup menahan gempuran dariku, dia menangis lalu lari mencari sahabatnya untuk mengadu. Demi meredakan hubungan antara aku dan istriku, sahabatnya datang sendirian ke rumahku. Dia mengenakan gaun pendek ketat yang seksi, lekuk dadanya tampak jelas menonjol. "Dengar-dengar kamu ganas sekali, ya? Biar kucoba dulu, besar atau nggak." Bab 1 Namaku Wira. Memasuki usia pernikahan tahun kelima, tubuhku tiba-tiba mengalami pubertas kedua. Ukuran kemaluanku jadi sangat besar dan hasratku juga semakin menggelora. Setiap hari, aku bisa meminta jatah tujuh sampai delapan kali. Awalnya, istriku sangat gembira melihat perubahanku. Setiap malamnya, dia sampai kelelahan setelah bersenang-senang. Namun perlahan-lahan, perkembanganku semakin besar dan istriku mulai tidak sanggup mengimbangiku. "Jangan masukkin lagi. Kalau dipaksa terus bakal meledak, nih." Istriku memohon sambil menangis kepadaku. Akan tetapi, aku benar-benar menderita menahan nafsu. Kemudian, aku pun mendorongnya dengan paksa ke dinding. Akhirnya, hari ini dia tidak sanggup lagi menahan semua ini. Dia menangis meraung-raung meminta cerai dariku. Aku tidak menyetujuinya, sehingga dia minggat dan menginap di rumah sahabatnya selama beberapa hari. Aku benar-benar menderita menahan diri. Selama seharian, aku terus merasa kemaluanku sangat keras hingga tidak bertahan lagi. Saat sahabatnya mendengar perubahanku ini, dia jadi sangat tertarik. Demi memperbaiki hubungan pernikahan kami, dia berinisiatif datang ke rumahku untuk menasihatiku. Ketika dia datang malam itu, aku sedang tersiksa karena menahan hasrat. Bel pintu berbunyi. Aku mengira istriku akhirnya pulang. Gelora yang telah kutahan selama berhari-hari akhirnya bisa kulampiaskan dengan sepuasnya. Namun, baru saja pintu dibuka, orang yang berdiri di luar ternyata adalah sahabatnya, Bilqis. Dia mengenakan gaun terusan seksi berwarna hitam. Payudaranya yang besar dan montok itu tampak begitu menggoda. Rok itu hampir tidak menutupi bagian atas pahanya, kakinya yang panjang dan ramping terbungkus stoking hitam, memperlihatkan area di mana pinggiran renda hitam bertemu dengan kulitnya. Mataku terbelalak menatapnya. Tubuhku langsung bereaksi. Tadinya kukira yang pulang itu adalah istriku, sehingga aku hanya mengenakan celana pendek yang longgar. Bagian depan celanaku tampak menggembung dan ukurannya sangat besar. Melihat hal itu, Bilqis langsung terperangah. "Kamu benaran lagi puber kedua, ya! Ukurannya lebih besar dari botol bir!" Sebenarnya, Bilqis adalah seorang wanita yang hasratnya tidak terpenuhi dengan puas. Penampilannya tampak memesona, tetapi dia malah menikah dengan seorang pria tua yang kaya. Dengar-dengar dari istriku, pria tua itu terlalu semena-mena saat masih muda. Oleh karena itu, sekarang fungsi tubuhnya telah menurun drastis dan sama sekali tidak bisa memuaskan Bilqis. Alhasil, Bilqis sekarang sering menghamburkan uang untuk mencari model pria. Aku melambaikan tangan menyuruhnya masuk. Dia duduk di sofa dengan satu kaki yang terangkat. Dasar sepatu hak tingginya yang berwarna merah membuatnya tampak semakin menawan. "Bilqis, kenapa kamu datang ke sini? Mana istriku?" tanyaku sambil menuangkan segelas air dan menyerahkannya kepada Bilqis. Dia minum seteguk air, lalu berkata padaku, "Kamu sih, kuatnya kebangetan. Sampai sekarang Shila masih nggak berani pulang." "Hari ini aku datang untuk nasihati kamu. Jangan terlalu kuat setiap kali berhubungan. Shila itu wanita lembut, mana bisa tahan sama kekuatanmu itu." Saat minum, dadanya bergoyang ke atas dan ke bawah. Payudaranya yang montok itu bergetar dengan hebat. Darahku mendidih melihat pemandangan itu. Ukuran payudaranya lebih besar dari punya istriku. Ingin sekali rasanya aku meremasnya sekali. Aku menghela napas, lalu duduk di seberang Bilqis. "Bukannya aku terlalu bertenaga. Sejak puber kedua ini, aku jadi kepengin terus. Kalau nggak disalurkan sehari saja, rasanya tersiksa sekali." Seketika, Bilqis menjadi penasaran dan mendekatkan tubuhnya. "Pria punya puber kedua ya? Kalau begitu, apa ukuranmu itu jadi lebih besar dari sebelumnya? Boleh nggak aku lihat?" Bilqis menatapku dengan tulus, tidak terlihat seperti sedang berbohong. Hatiku berdegup kencang. Apa Bilqis ini nggak terlalu berani, ya? Memangnya benda begituan bisa ditunjukkan sembarangan? "I ... ini rasanya nggak baik deh," ucapku dengan gugup. Namun, dalam hatiku sudah kacau balau. Bilqis berujar dengan santai, "Kenapa takut sih ditunjukkan sama aku? Punyamu ini termasuk keajaiban. Aku cuma pengin melihatnya langsung sendiri." Berhubung dia terus-menerus memintanya, aku pun tidak lagi menahan diri. Di hadapannya, aku menanggalkan celanaku perlahan-lahan. Belum pernah aku menunjukkan tubuh bagian bawahku kepada wanita lain. Perasaan ini benar-benar seru. Ditatap dengan sorot mata yang berkobar seperti itu, entah mengapa aku merasa diriku semakin perkasa. Sesuai dugaan, Bilqis memang wanita yang sering bersenang-senang dengan model pria. Menghadapi situasi seperti ini, dia tetap bisa mengendalikan diri dan bahkan menunjukkan sedikit hasratnya. Dia menelan ludah dan memujiku, "Pertumbuhanmu besar sekali ya, lebih besar dari semua model pria yang pernah kupesan. Punyammu ini benaran nggak? Aku boleh pegang sebentar?" AKu sama sekali tidak menyangka dia akan mengajukan permintaan seperti itu. Seketika, hatiku jadi terasa antusias dan akhirnya aku mengangguk menyetujuinya.

Goodnovles
Goodnovles
Inactive2 days
fixcm.com
Attention! Do not read in public places!
See details

"Sis, tolong bantu aku puasin suamiku, aku benar-benar sudah nggak tahan lagi." Istriku belakangan ini tidak sanggup menahan gempuran dariku, dia menangis lalu lari mencari sahabatnya untuk mengadu. Demi meredakan hubungan antara aku dan istriku, sahabatnya datang sendirian ke rumahku. Dia mengenakan gaun pendek ketat yang seksi, lekuk dadanya tampak jelas menonjol. "Dengar-dengar kamu ganas sekali, ya? Biar kucoba dulu, besar atau nggak." Bab 1 Namaku Wira. Memasuki usia pernikahan tahun kelima, tubuhku tiba-tiba mengalami pubertas kedua. Ukuran kemaluanku jadi sangat besar dan hasratku juga semakin menggelora. Setiap hari, aku bisa meminta jatah tujuh sampai delapan kali. Awalnya, istriku sangat gembira melihat perubahanku. Setiap malamnya, dia sampai kelelahan setelah bersenang-senang. Namun perlahan-lahan, perkembanganku semakin besar dan istriku mulai tidak sanggup mengimbangiku. "Jangan masukkin lagi. Kalau dipaksa terus bakal meledak, nih." Istriku memohon sambil menangis kepadaku. Akan tetapi, aku benar-benar menderita menahan nafsu. Kemudian, aku pun mendorongnya dengan paksa ke dinding. Akhirnya, hari ini dia tidak sanggup lagi menahan semua ini. Dia menangis meraung-raung meminta cerai dariku. Aku tidak menyetujuinya, sehingga dia minggat dan menginap di rumah sahabatnya selama beberapa hari. Aku benar-benar menderita menahan diri. Selama seharian, aku terus merasa kemaluanku sangat keras hingga tidak bertahan lagi. Saat sahabatnya mendengar perubahanku ini, dia jadi sangat tertarik. Demi memperbaiki hubungan pernikahan kami, dia berinisiatif datang ke rumahku untuk menasihatiku. Ketika dia datang malam itu, aku sedang tersiksa karena menahan hasrat. Bel pintu berbunyi. Aku mengira istriku akhirnya pulang. Gelora yang telah kutahan selama berhari-hari akhirnya bisa kulampiaskan dengan sepuasnya. Namun, baru saja pintu dibuka, orang yang berdiri di luar ternyata adalah sahabatnya, Bilqis. Dia mengenakan gaun terusan seksi berwarna hitam. Payudaranya yang besar dan montok itu tampak begitu menggoda. Rok itu hampir tidak menutupi bagian atas pahanya, kakinya yang panjang dan ramping terbungkus stoking hitam, memperlihatkan area di mana pinggiran renda hitam bertemu dengan kulitnya. Mataku terbelalak menatapnya. Tubuhku langsung bereaksi. Tadinya kukira yang pulang itu adalah istriku, sehingga aku hanya mengenakan celana pendek yang longgar. Bagian depan celanaku tampak menggembung dan ukurannya sangat besar. Melihat hal itu, Bilqis langsung terperangah. "Kamu benaran lagi puber kedua, ya! Ukurannya lebih besar dari botol bir!" Sebenarnya, Bilqis adalah seorang wanita yang hasratnya tidak terpenuhi dengan puas. Penampilannya tampak memesona, tetapi dia malah menikah dengan seorang pria tua yang kaya. Dengar-dengar dari istriku, pria tua itu terlalu semena-mena saat masih muda. Oleh karena itu, sekarang fungsi tubuhnya telah menurun drastis dan sama sekali tidak bisa memuaskan Bilqis. Alhasil, Bilqis sekarang sering menghamburkan uang untuk mencari model pria. Aku melambaikan tangan menyuruhnya masuk. Dia duduk di sofa dengan satu kaki yang terangkat. Dasar sepatu hak tingginya yang berwarna merah membuatnya tampak semakin menawan. "Bilqis, kenapa kamu datang ke sini? Mana istriku?" tanyaku sambil menuangkan segelas air dan menyerahkannya kepada Bilqis. Dia minum seteguk air, lalu berkata padaku, "Kamu sih, kuatnya kebangetan. Sampai sekarang Shila masih nggak berani pulang." "Hari ini aku datang untuk nasihati kamu. Jangan terlalu kuat setiap kali berhubungan. Shila itu wanita lembut, mana bisa tahan sama kekuatanmu itu." Saat minum, dadanya bergoyang ke atas dan ke bawah. Payudaranya yang montok itu bergetar dengan hebat. Darahku mendidih melihat pemandangan itu. Ukuran payudaranya lebih besar dari punya istriku. Ingin sekali rasanya aku meremasnya sekali. Aku menghela napas, lalu duduk di seberang Bilqis. "Bukannya aku terlalu bertenaga. Sejak puber kedua ini, aku jadi kepengin terus. Kalau nggak disalurkan sehari saja, rasanya tersiksa sekali." Seketika, Bilqis menjadi penasaran dan mendekatkan tubuhnya. "Pria punya puber kedua ya? Kalau begitu, apa ukuranmu itu jadi lebih besar dari sebelumnya? Boleh nggak aku lihat?" Bilqis menatapku dengan tulus, tidak terlihat seperti sedang berbohong. Hatiku berdegup kencang. Apa Bilqis ini nggak terlalu berani, ya? Memangnya benda begituan bisa ditunjukkan sembarangan? "I ... ini rasanya nggak baik deh," ucapku dengan gugup. Namun, dalam hatiku sudah kacau balau. Bilqis berujar dengan santai, "Kenapa takut sih ditunjukkan sama aku? Punyamu ini termasuk keajaiban. Aku cuma pengin melihatnya langsung sendiri." Berhubung dia terus-menerus memintanya, aku pun tidak lagi menahan diri. Di hadapannya, aku menanggalkan celanaku perlahan-lahan. Belum pernah aku menunjukkan tubuh bagian bawahku kepada wanita lain. Perasaan ini benar-benar seru. Ditatap dengan sorot mata yang berkobar seperti itu, entah mengapa aku merasa diriku semakin perkasa. Sesuai dugaan, Bilqis memang wanita yang sering bersenang-senang dengan model pria. Menghadapi situasi seperti ini, dia tetap bisa mengendalikan diri dan bahkan menunjukkan sedikit hasratnya. Dia menelan ludah dan memujiku, "Pertumbuhanmu besar sekali ya, lebih besar dari semua model pria yang pernah kupesan. Punyammu ini benaran nggak? Aku boleh pegang sebentar?" AKu sama sekali tidak menyangka dia akan mengajukan permintaan seperti itu. Seketika, hatiku jadi terasa antusias dan akhirnya aku mengangguk menyetujuinya.

Goodnovles
Goodnovles
Inactive2 days
fixcm.com
Attention! Do not read in public places!
See details

"Sis, tolong bantu aku puasin suamiku, aku benar-benar sudah nggak tahan lagi." Istriku belakangan ini tidak sanggup menahan gempuran dariku, dia menangis lalu lari mencari sahabatnya untuk mengadu. Demi meredakan hubungan antara aku dan istriku, sahabatnya datang sendirian ke rumahku. Dia mengenakan gaun pendek ketat yang seksi, lekuk dadanya tampak jelas menonjol. "Dengar-dengar kamu ganas sekali, ya? Biar kucoba dulu, besar atau nggak." Bab 1 Namaku Wira. Memasuki usia pernikahan tahun kelima, tubuhku tiba-tiba mengalami pubertas kedua. Ukuran kemaluanku jadi sangat besar dan hasratku juga semakin menggelora. Setiap hari, aku bisa meminta jatah tujuh sampai delapan kali. Awalnya, istriku sangat gembira melihat perubahanku. Setiap malamnya, dia sampai kelelahan setelah bersenang-senang. Namun perlahan-lahan, perkembanganku semakin besar dan istriku mulai tidak sanggup mengimbangiku. "Jangan masukkin lagi. Kalau dipaksa terus bakal meledak, nih." Istriku memohon sambil menangis kepadaku. Akan tetapi, aku benar-benar menderita menahan nafsu. Kemudian, aku pun mendorongnya dengan paksa ke dinding. Akhirnya, hari ini dia tidak sanggup lagi menahan semua ini. Dia menangis meraung-raung meminta cerai dariku. Aku tidak menyetujuinya, sehingga dia minggat dan menginap di rumah sahabatnya selama beberapa hari. Aku benar-benar menderita menahan diri. Selama seharian, aku terus merasa kemaluanku sangat keras hingga tidak bertahan lagi. Saat sahabatnya mendengar perubahanku ini, dia jadi sangat tertarik. Demi memperbaiki hubungan pernikahan kami, dia berinisiatif datang ke rumahku untuk menasihatiku. Ketika dia datang malam itu, aku sedang tersiksa karena menahan hasrat. Bel pintu berbunyi. Aku mengira istriku akhirnya pulang. Gelora yang telah kutahan selama berhari-hari akhirnya bisa kulampiaskan dengan sepuasnya. Namun, baru saja pintu dibuka, orang yang berdiri di luar ternyata adalah sahabatnya, Bilqis. Dia mengenakan gaun terusan seksi berwarna hitam. Payudaranya yang besar dan montok itu tampak begitu menggoda. Rok itu hampir tidak menutupi bagian atas pahanya, kakinya yang panjang dan ramping terbungkus stoking hitam, memperlihatkan area di mana pinggiran renda hitam bertemu dengan kulitnya. Mataku terbelalak menatapnya. Tubuhku langsung bereaksi. Tadinya kukira yang pulang itu adalah istriku, sehingga aku hanya mengenakan celana pendek yang longgar. Bagian depan celanaku tampak menggembung dan ukurannya sangat besar. Melihat hal itu, Bilqis langsung terperangah. "Kamu benaran lagi puber kedua, ya! Ukurannya lebih besar dari botol bir!" Sebenarnya, Bilqis adalah seorang wanita yang hasratnya tidak terpenuhi dengan puas. Penampilannya tampak memesona, tetapi dia malah menikah dengan seorang pria tua yang kaya. Dengar-dengar dari istriku, pria tua itu terlalu semena-mena saat masih muda. Oleh karena itu, sekarang fungsi tubuhnya telah menurun drastis dan sama sekali tidak bisa memuaskan Bilqis. Alhasil, Bilqis sekarang sering menghamburkan uang untuk mencari model pria. Aku melambaikan tangan menyuruhnya masuk. Dia duduk di sofa dengan satu kaki yang terangkat. Dasar sepatu hak tingginya yang berwarna merah membuatnya tampak semakin menawan. "Bilqis, kenapa kamu datang ke sini? Mana istriku?" tanyaku sambil menuangkan segelas air dan menyerahkannya kepada Bilqis. Dia minum seteguk air, lalu berkata padaku, "Kamu sih, kuatnya kebangetan. Sampai sekarang Shila masih nggak berani pulang." "Hari ini aku datang untuk nasihati kamu. Jangan terlalu kuat setiap kali berhubungan. Shila itu wanita lembut, mana bisa tahan sama kekuatanmu itu." Saat minum, dadanya bergoyang ke atas dan ke bawah. Payudaranya yang montok itu bergetar dengan hebat. Darahku mendidih melihat pemandangan itu. Ukuran payudaranya lebih besar dari punya istriku. Ingin sekali rasanya aku meremasnya sekali. Aku menghela napas, lalu duduk di seberang Bilqis. "Bukannya aku terlalu bertenaga. Sejak puber kedua ini, aku jadi kepengin terus. Kalau nggak disalurkan sehari saja, rasanya tersiksa sekali." Seketika, Bilqis menjadi penasaran dan mendekatkan tubuhnya. "Pria punya puber kedua ya? Kalau begitu, apa ukuranmu itu jadi lebih besar dari sebelumnya? Boleh nggak aku lihat?" Bilqis menatapku dengan tulus, tidak terlihat seperti sedang berbohong. Hatiku berdegup kencang. Apa Bilqis ini nggak terlalu berani, ya? Memangnya benda begituan bisa ditunjukkan sembarangan? "I ... ini rasanya nggak baik deh," ucapku dengan gugup. Namun, dalam hatiku sudah kacau balau. Bilqis berujar dengan santai, "Kenapa takut sih ditunjukkan sama aku? Punyamu ini termasuk keajaiban. Aku cuma pengin melihatnya langsung sendiri." Berhubung dia terus-menerus memintanya, aku pun tidak lagi menahan diri. Di hadapannya, aku menanggalkan celanaku perlahan-lahan. Belum pernah aku menunjukkan tubuh bagian bawahku kepada wanita lain. Perasaan ini benar-benar seru. Ditatap dengan sorot mata yang berkobar seperti itu, entah mengapa aku merasa diriku semakin perkasa. Sesuai dugaan, Bilqis memang wanita yang sering bersenang-senang dengan model pria. Menghadapi situasi seperti ini, dia tetap bisa mengendalikan diri dan bahkan menunjukkan sedikit hasratnya. Dia menelan ludah dan memujiku, "Pertumbuhanmu besar sekali ya, lebih besar dari semua model pria yang pernah kupesan. Punyammu ini benaran nggak? Aku boleh pegang sebentar?" AKu sama sekali tidak menyangka dia akan mengajukan permintaan seperti itu. Seketika, hatiku jadi terasa antusias dan akhirnya aku mengangguk menyetujuinya.

Goodnovles
Goodnovles
Inactive2 days
fixcm.com
Attention! Do not read in public places!
See details

"Sis, tolong bantu aku puasin suamiku, aku benar-benar sudah nggak tahan lagi." Istriku belakangan ini tidak sanggup menahan gempuran dariku, dia menangis lalu lari mencari sahabatnya untuk mengadu. Demi meredakan hubungan antara aku dan istriku, sahabatnya datang sendirian ke rumahku. Dia mengenakan gaun pendek ketat yang seksi, lekuk dadanya tampak jelas menonjol. "Dengar-dengar kamu ganas sekali, ya? Biar kucoba dulu, besar atau nggak." Bab 1 Namaku Wira. Memasuki usia pernikahan tahun kelima, tubuhku tiba-tiba mengalami pubertas kedua. Ukuran kemaluanku jadi sangat besar dan hasratku juga semakin menggelora. Setiap hari, aku bisa meminta jatah tujuh sampai delapan kali. Awalnya, istriku sangat gembira melihat perubahanku. Setiap malamnya, dia sampai kelelahan setelah bersenang-senang. Namun perlahan-lahan, perkembanganku semakin besar dan istriku mulai tidak sanggup mengimbangiku. "Jangan masukkin lagi. Kalau dipaksa terus bakal meledak, nih." Istriku memohon sambil menangis kepadaku. Akan tetapi, aku benar-benar menderita menahan nafsu. Kemudian, aku pun mendorongnya dengan paksa ke dinding. Akhirnya, hari ini dia tidak sanggup lagi menahan semua ini. Dia menangis meraung-raung meminta cerai dariku. Aku tidak menyetujuinya, sehingga dia minggat dan menginap di rumah sahabatnya selama beberapa hari. Aku benar-benar menderita menahan diri. Selama seharian, aku terus merasa kemaluanku sangat keras hingga tidak bertahan lagi. Saat sahabatnya mendengar perubahanku ini, dia jadi sangat tertarik. Demi memperbaiki hubungan pernikahan kami, dia berinisiatif datang ke rumahku untuk menasihatiku. Ketika dia datang malam itu, aku sedang tersiksa karena menahan hasrat. Bel pintu berbunyi. Aku mengira istriku akhirnya pulang. Gelora yang telah kutahan selama berhari-hari akhirnya bisa kulampiaskan dengan sepuasnya. Namun, baru saja pintu dibuka, orang yang berdiri di luar ternyata adalah sahabatnya, Bilqis. Dia mengenakan gaun terusan seksi berwarna hitam. Payudaranya yang besar dan montok itu tampak begitu menggoda. Rok itu hampir tidak menutupi bagian atas pahanya, kakinya yang panjang dan ramping terbungkus stoking hitam, memperlihatkan area di mana pinggiran renda hitam bertemu dengan kulitnya. Mataku terbelalak menatapnya. Tubuhku langsung bereaksi. Tadinya kukira yang pulang itu adalah istriku, sehingga aku hanya mengenakan celana pendek yang longgar. Bagian depan celanaku tampak menggembung dan ukurannya sangat besar. Melihat hal itu, Bilqis langsung terperangah. "Kamu benaran lagi puber kedua, ya! Ukurannya lebih besar dari botol bir!" Sebenarnya, Bilqis adalah seorang wanita yang hasratnya tidak terpenuhi dengan puas. Penampilannya tampak memesona, tetapi dia malah menikah dengan seorang pria tua yang kaya. Dengar-dengar dari istriku, pria tua itu terlalu semena-mena saat masih muda. Oleh karena itu, sekarang fungsi tubuhnya telah menurun drastis dan sama sekali tidak bisa memuaskan Bilqis. Alhasil, Bilqis sekarang sering menghamburkan uang untuk mencari model pria. Aku melambaikan tangan menyuruhnya masuk. Dia duduk di sofa dengan satu kaki yang terangkat. Dasar sepatu hak tingginya yang berwarna merah membuatnya tampak semakin menawan. "Bilqis, kenapa kamu datang ke sini? Mana istriku?" tanyaku sambil menuangkan segelas air dan menyerahkannya kepada Bilqis. Dia minum seteguk air, lalu berkata padaku, "Kamu sih, kuatnya kebangetan. Sampai sekarang Shila masih nggak berani pulang." "Hari ini aku datang untuk nasihati kamu. Jangan terlalu kuat setiap kali berhubungan. Shila itu wanita lembut, mana bisa tahan sama kekuatanmu itu." Saat minum, dadanya bergoyang ke atas dan ke bawah. Payudaranya yang montok itu bergetar dengan hebat. Darahku mendidih melihat pemandangan itu. Ukuran payudaranya lebih besar dari punya istriku. Ingin sekali rasanya aku meremasnya sekali. Aku menghela napas, lalu duduk di seberang Bilqis. "Bukannya aku terlalu bertenaga. Sejak puber kedua ini, aku jadi kepengin terus. Kalau nggak disalurkan sehari saja, rasanya tersiksa sekali." Seketika, Bilqis menjadi penasaran dan mendekatkan tubuhnya. "Pria punya puber kedua ya? Kalau begitu, apa ukuranmu itu jadi lebih besar dari sebelumnya? Boleh nggak aku lihat?" Bilqis menatapku dengan tulus, tidak terlihat seperti sedang berbohong. Hatiku berdegup kencang. Apa Bilqis ini nggak terlalu berani, ya? Memangnya benda begituan bisa ditunjukkan sembarangan? "I ... ini rasanya nggak baik deh," ucapku dengan gugup. Namun, dalam hatiku sudah kacau balau. Bilqis berujar dengan santai, "Kenapa takut sih ditunjukkan sama aku? Punyamu ini termasuk keajaiban. Aku cuma pengin melihatnya langsung sendiri." Berhubung dia terus-menerus memintanya, aku pun tidak lagi menahan diri. Di hadapannya, aku menanggalkan celanaku perlahan-lahan. Belum pernah aku menunjukkan tubuh bagian bawahku kepada wanita lain. Perasaan ini benar-benar seru. Ditatap dengan sorot mata yang berkobar seperti itu, entah mengapa aku merasa diriku semakin perkasa. Sesuai dugaan, Bilqis memang wanita yang sering bersenang-senang dengan model pria. Menghadapi situasi seperti ini, dia tetap bisa mengendalikan diri dan bahkan menunjukkan sedikit hasratnya. Dia menelan ludah dan memujiku, "Pertumbuhanmu besar sekali ya, lebih besar dari semua model pria yang pernah kupesan. Punyammu ini benaran nggak? Aku boleh pegang sebentar?" AKu sama sekali tidak menyangka dia akan mengajukan permintaan seperti itu. Seketika, hatiku jadi terasa antusias dan akhirnya aku mengangguk menyetujuinya.

Goodnovles
Goodnovles
Inactive3 days
fixcm.com
Attention! Do not read in public places!
See details

"Sis, tolong bantu aku puasin suamiku, aku benar-benar sudah nggak tahan lagi." Istriku belakangan ini tidak sanggup menahan gempuran dariku, dia menangis lalu lari mencari sahabatnya untuk mengadu. Demi meredakan hubungan antara aku dan istriku, sahabatnya datang sendirian ke rumahku. Dia mengenakan gaun pendek ketat yang seksi, lekuk dadanya tampak jelas menonjol. "Dengar-dengar kamu ganas sekali, ya? Biar kucoba dulu, besar atau nggak." Bab 1 Namaku Wira. Memasuki usia pernikahan tahun kelima, tubuhku tiba-tiba mengalami pubertas kedua. Ukuran kemaluanku jadi sangat besar dan hasratku juga semakin menggelora. Setiap hari, aku bisa meminta jatah tujuh sampai delapan kali. Awalnya, istriku sangat gembira melihat perubahanku. Setiap malamnya, dia sampai kelelahan setelah bersenang-senang. Namun perlahan-lahan, perkembanganku semakin besar dan istriku mulai tidak sanggup mengimbangiku. "Jangan masukkin lagi. Kalau dipaksa terus bakal meledak, nih." Istriku memohon sambil menangis kepadaku. Akan tetapi, aku benar-benar menderita menahan nafsu. Kemudian, aku pun mendorongnya dengan paksa ke dinding. Akhirnya, hari ini dia tidak sanggup lagi menahan semua ini. Dia menangis meraung-raung meminta cerai dariku. Aku tidak menyetujuinya, sehingga dia minggat dan menginap di rumah sahabatnya selama beberapa hari. Aku benar-benar menderita menahan diri. Selama seharian, aku terus merasa kemaluanku sangat keras hingga tidak bertahan lagi. Saat sahabatnya mendengar perubahanku ini, dia jadi sangat tertarik. Demi memperbaiki hubungan pernikahan kami, dia berinisiatif datang ke rumahku untuk menasihatiku. Ketika dia datang malam itu, aku sedang tersiksa karena menahan hasrat. Bel pintu berbunyi. Aku mengira istriku akhirnya pulang. Gelora yang telah kutahan selama berhari-hari akhirnya bisa kulampiaskan dengan sepuasnya. Namun, baru saja pintu dibuka, orang yang berdiri di luar ternyata adalah sahabatnya, Bilqis. Dia mengenakan gaun terusan seksi berwarna hitam. Payudaranya yang besar dan montok itu tampak begitu menggoda. Rok itu hampir tidak menutupi bagian atas pahanya, kakinya yang panjang dan ramping terbungkus stoking hitam, memperlihatkan area di mana pinggiran renda hitam bertemu dengan kulitnya. Mataku terbelalak menatapnya. Tubuhku langsung bereaksi. Tadinya kukira yang pulang itu adalah istriku, sehingga aku hanya mengenakan celana pendek yang longgar. Bagian depan celanaku tampak menggembung dan ukurannya sangat besar. Melihat hal itu, Bilqis langsung terperangah. "Kamu benaran lagi puber kedua, ya! Ukurannya lebih besar dari botol bir!" Sebenarnya, Bilqis adalah seorang wanita yang hasratnya tidak terpenuhi dengan puas. Penampilannya tampak memesona, tetapi dia malah menikah dengan seorang pria tua yang kaya. Dengar-dengar dari istriku, pria tua itu terlalu semena-mena saat masih muda. Oleh karena itu, sekarang fungsi tubuhnya telah menurun drastis dan sama sekali tidak bisa memuaskan Bilqis. Alhasil, Bilqis sekarang sering menghamburkan uang untuk mencari model pria. Aku melambaikan tangan menyuruhnya masuk. Dia duduk di sofa dengan satu kaki yang terangkat. Dasar sepatu hak tingginya yang berwarna merah membuatnya tampak semakin menawan. "Bilqis, kenapa kamu datang ke sini? Mana istriku?" tanyaku sambil menuangkan segelas air dan menyerahkannya kepada Bilqis. Dia minum seteguk air, lalu berkata padaku, "Kamu sih, kuatnya kebangetan. Sampai sekarang Shila masih nggak berani pulang." "Hari ini aku datang untuk nasihati kamu. Jangan terlalu kuat setiap kali berhubungan. Shila itu wanita lembut, mana bisa tahan sama kekuatanmu itu." Saat minum, dadanya bergoyang ke atas dan ke bawah. Payudaranya yang montok itu bergetar dengan hebat. Darahku mendidih melihat pemandangan itu. Ukuran payudaranya lebih besar dari punya istriku. Ingin sekali rasanya aku meremasnya sekali. Aku menghela napas, lalu duduk di seberang Bilqis. "Bukannya aku terlalu bertenaga. Sejak puber kedua ini, aku jadi kepengin terus. Kalau nggak disalurkan sehari saja, rasanya tersiksa sekali." Seketika, Bilqis menjadi penasaran dan mendekatkan tubuhnya. "Pria punya puber kedua ya? Kalau begitu, apa ukuranmu itu jadi lebih besar dari sebelumnya? Boleh nggak aku lihat?" Bilqis menatapku dengan tulus, tidak terlihat seperti sedang berbohong. Hatiku berdegup kencang. Apa Bilqis ini nggak terlalu berani, ya? Memangnya benda begituan bisa ditunjukkan sembarangan? "I ... ini rasanya nggak baik deh," ucapku dengan gugup. Namun, dalam hatiku sudah kacau balau. Bilqis berujar dengan santai, "Kenapa takut sih ditunjukkan sama aku? Punyamu ini termasuk keajaiban. Aku cuma pengin melihatnya langsung sendiri." Berhubung dia terus-menerus memintanya, aku pun tidak lagi menahan diri. Di hadapannya, aku menanggalkan celanaku perlahan-lahan. Belum pernah aku menunjukkan tubuh bagian bawahku kepada wanita lain. Perasaan ini benar-benar seru. Ditatap dengan sorot mata yang berkobar seperti itu, entah mengapa aku merasa diriku semakin perkasa. Sesuai dugaan, Bilqis memang wanita yang sering bersenang-senang dengan model pria. Menghadapi situasi seperti ini, dia tetap bisa mengendalikan diri dan bahkan menunjukkan sedikit hasratnya. Dia menelan ludah dan memujiku, "Pertumbuhanmu besar sekali ya, lebih besar dari semua model pria yang pernah kupesan. Punyammu ini benaran nggak? Aku boleh pegang sebentar?" AKu sama sekali tidak menyangka dia akan mengajukan permintaan seperti itu. Seketika, hatiku jadi terasa antusias dan akhirnya aku mengangguk menyetujuinya.

Brands like Goodnovles

Other active advertisers in home and garden

Goodnovles ads: frequently asked questions

How many Facebook ads does Goodnovles run?+

We have tracked 705 ads from Goodnovles, and 0 are active right now.

Where does Goodnovles advertise?+

Their ads mostly target Worldwide, across audience network, facebook, instagram, messenger, threads.

Is Goodnovles still advertising?+

Not at the moment. Their most recent ad started on May 26, 2026.

How can I track Goodnovles's new ads?+

Create a free account and press Track this brand. Every new home and garden ad they launch will appear in your tracker.

Free plan, no card needed

Track Goodnovles automatically

Get every new ad they launch in your tracker, with creatives, copy and landing pages.

Start free