"Sis, tolong bantu aku puasin suamiku, aku benar-benar sudah nggak tahan lagi." Istriku belakangan ini tidak sanggup menahan gempuran dariku, dia menangis lalu lari mencari sahabatnya untuk mengadu. Demi meredakan hubungan antara aku dan istriku, sahabatnya datang sendirian ke rumahku. Dia mengenakan gaun pendek ketat yang seksi, lekuk dadanya tampak jelas menonjol. "Dengar-dengar kamu ganas sekali, ya? Biar kucoba dulu, besar atau nggak." Bab 1 Namaku Wira. Memasuki usia pernikahan tahun kelima, tubuhku tiba-tiba mengalami pubertas kedua. Ukuran kemaluanku jadi sangat besar dan hasratku juga semakin menggelora. Setiap hari, aku bisa meminta jatah tujuh sampai delapan kali. Awalnya, istriku sangat gembira melihat perubahanku. Setiap malamnya, dia sampai kelelahan setelah bersenang-senang. Namun perlahan-lahan, perkembanganku semakin besar dan istriku mulai tidak sanggup mengimbangiku. "Jangan masukkin lagi. Kalau dipaksa terus bakal meledak, nih." Istriku memohon sambil menangis kepadaku. Akan tetapi, aku benar-benar menderita menahan nafsu. Kemudian, aku pun mendorongnya dengan paksa ke dinding. Akhirnya, hari ini dia tidak sanggup lagi menahan semua ini. Dia menangis meraung-raung meminta cerai dariku. Aku tidak menyetujuinya, sehingga dia minggat dan menginap di rumah sahabatnya selama beberapa hari. Aku benar-benar menderita menahan diri. Selama seharian, aku terus merasa kemaluanku sangat keras hingga tidak bertahan lagi. Saat sahabatnya mendengar perubahanku ini, dia jadi sangat tertarik. Demi memperbaiki hubungan pernikahan kami, dia berinisiatif datang ke rumahku untuk menasihatiku. Ketika dia datang malam itu, aku sedang tersiksa karena menahan hasrat. Bel pintu berbunyi. Aku mengira istriku akhirnya pulang. Gelora yang telah kutahan selama berhari-hari akhirnya bisa kulampiaskan dengan sepuasnya. Namun, baru saja pintu dibuka, orang yang berdiri di luar ternyata adalah sahabatnya, Bilqis. Dia mengenakan gaun terusan seksi berwarna hitam. Payudaranya yang besar dan montok itu tampak begitu menggoda. Rok itu hampir tidak menutupi bagian atas pahanya, kakinya yang panjang dan ramping terbungkus stoking hitam, memperlihatkan area di mana pinggiran renda hitam bertemu dengan kulitnya. Mataku terbelalak menatapnya. Tubuhku langsung bereaksi. Tadinya kukira yang pulang itu adalah istriku, sehingga aku hanya mengenakan celana pendek yang longgar. Bagian depan celanaku tampak menggembung dan ukurannya sangat besar. Melihat hal itu, Bilqis langsung terperangah. "Kamu benaran lagi puber kedua, ya! Ukurannya lebih besar dari botol bir!" Sebenarnya, Bilqis adalah seorang wanita yang hasratnya tidak terpenuhi dengan puas. Penampilannya tampak memesona, tetapi dia malah menikah dengan seorang pria tua yang kaya. Dengar-dengar dari istriku, pria tua itu terlalu semena-mena saat masih muda. Oleh karena itu, sekarang fungsi tubuhnya telah menurun drastis dan sama sekali tidak bisa memuaskan Bilqis. Alhasil, Bilqis sekarang sering menghamburkan uang untuk mencari model pria. Aku melambaikan tangan menyuruhnya masuk. Dia duduk di sofa dengan satu kaki yang terangkat. Dasar sepatu hak tingginya yang berwarna merah membuatnya tampak semakin menawan. "Bilqis, kenapa kamu datang ke sini? Mana istriku?" tanyaku sambil menuangkan segelas air dan menyerahkannya kepada Bilqis. Dia minum seteguk air, lalu berkata padaku, "Kamu sih, kuatnya kebangetan. Sampai sekarang Shila masih nggak berani pulang." "Hari ini aku datang untuk nasihati kamu. Jangan terlalu kuat setiap kali berhubungan. Shila itu wanita lembut, mana bisa tahan sama kekuatanmu itu." Saat minum, dadanya bergoyang ke atas dan ke bawah. Payudaranya yang montok itu bergetar dengan hebat. Darahku mendidih melihat pemandangan itu. Ukuran payudaranya lebih besar dari punya istriku. Ingin sekali rasanya aku meremasnya sekali. Aku menghela napas, lalu duduk di seberang Bilqis. "Bukannya aku terlalu bertenaga. Sejak puber kedua ini, aku jadi kepengin terus. Kalau nggak disalurkan sehari saja, rasanya tersiksa sekali." Seketika, Bilqis menjadi penasaran dan mendekatkan tubuhnya. "Pria punya puber kedua ya? Kalau begitu, apa ukuranmu itu jadi lebih besar dari sebelumnya? Boleh nggak aku lihat?" Bilqis menatapku dengan tulus, tidak terlihat seperti sedang berbohong. Hatiku berdegup kencang. Apa Bilqis ini nggak terlalu berani, ya? Memangnya benda begituan bisa ditunjukkan sembarangan? "I ... ini rasanya nggak baik deh," ucapku dengan gugup. Namun, dalam hatiku sudah kacau balau. Bilqis berujar dengan santai, "Kenapa takut sih ditunjukkan sama aku? Punyamu ini termasuk keajaiban. Aku cuma pengin melihatnya langsung sendiri." Berhubung dia terus-menerus memintanya, aku pun tidak lagi menahan diri. Di hadapannya, aku menanggalkan celanaku perlahan-lahan. Belum pernah aku menunjukkan tubuh bagian bawahku kepada wanita lain. Perasaan ini benar-benar seru. Ditatap dengan sorot mata yang berkobar seperti itu, entah mengapa aku merasa diriku semakin perkasa. Sesuai dugaan, Bilqis memang wanita yang sering bersenang-senang dengan model pria. Menghadapi situasi seperti ini, dia tetap bisa mengendalikan diri dan bahkan menunjukkan sedikit hasratnya. Dia menelan ludah dan memujiku, "Pertumbuhanmu besar sekali ya, lebih besar dari semua model pria yang pernah kupesan. Punyammu ini benaran nggak? Aku boleh pegang sebentar?" AKu sama sekali tidak menyangka dia akan mengajukan permintaan seperti itu. Seketika, hatiku jadi terasa antusias dan akhirnya aku mengangguk menyetujuinya.
Reading novles Facebook and Instagram ad
Reading novles ran this video ad since Jun 10, 2026, 1 days so far.
Ad copy
"Paman ... besar sekali, apa semua pria begini ...?" Wajah keponakan istriku merona merah saat aku menyentuhnya. Tangannya yang halus terasa kaku saat meraba alat milikku dari balik celana. Aku menatap tubuhnya yang mulai bereaksi akibat belaianku, lalu sengaja menggodanya, "Bukan hanya begini, pria juga akan memasukkan alat ini ke lubang bawahmu, lho." Selesai berbicara, aku sengaja menyentakkan bagian bawah tubuhku ke telapak tangannya yang lembut. Tak disangka, tangan satunya menyingkap ujung roknya sendiri. Sementara tangan yang lain menarik pakaianku dan menggenggam alat yang sudah menegang keras itu. Sesuatu yang besar dan kokoh itu menekan perut bawahnya. Wajahnya merah padam. Dia memegang alat itu, mengesekkannya perlahan di perut bawahnya, bahkan mungkin mengarah lebih ke bawah lagi .... Bab 1 Aku adalah seorang dosen. Awalnya aku memiliki kehidupan pernikahan yang bahagia dan sempurna, tetapi beberapa hari terakhir ini aku merasa sangat tertekan. Hal ini dikarenakan istriku yang bertubuh mungil, sepertinya tidak sanggup menahan fisikku yang kuat dan "alat besar" milikku yang bahkan lebih perkasa daripada pria Afrika. Setiap kali kami berhubungan intim, sebelum aku sempat merasa puas, dia sudah menutupi bagian bawahnya dan memohon agar aku berhenti. Istriku, Marsha Gilda, akhirnya memutuskan untuk pisah ranjang denganku. Padahal usia pernikahan kami belum genap tiga bulan, tetapi dia sering sekali pulang ke rumah orang tuanya, bahkan sempat melontarkan keinginan untuk bercerai. Keponakannya yang baru masuk kuliah pun sampai tahu tentang ketidakharmonisan hubungan ranjangku dengan Marsha. Tina Devinka, keponakan istriku, tahun ini baru masuk semester satu dan kebetulan diterima di universitas tempatku mengajar. Saat awal perkuliahan, tentu saja aku sebagai paman, harus membantunya mengurus keperluannya. Saat aku mengetuk pintu dan masuk ke kamar asramanya, aku melihatnya sedang menunduk merapikan koper. Tubuhnya yang muda sedikit membungkuk. Menampakkan bokong yang padat dan bulat, yang bergerak perlahan, membuat jantungku berdesir. Gadis itu lalu mendongak dan melihatku. Dia tampak sedikit terkejut, tetapi segera kembali tenang dan menyapa dengan manis, "Paman!" Tina tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 160 cm. Kulitnya putih bersih dengan tubuh yang ramping. Rambut panjangnya diikat asal, memancarkan vitalitas anak muda. Dia mengenakan kaus longgar dan rok pendek yang nyaris hanya menutupi bokongnya, hingga sudut celana dalamnya hampir terlihat samar. Sepasang kakinya di bawah sana terlihat jenjang dan cantik. Kulit putihnya membuat kerongkonganku terasa kering. Dadanya yang berukuran 36D terlihat menonjol di balik baju, pantas saja dia langsung diakui sebagai primadona kampus di forum diskusi universitas. Pasti karena akhir-akhir ini istriku tidak memuaskanku, sehingga melihat Tina saja sudah membuatku berimajinasi liar. Terutama saat aku tidak sengaja melihat sehelai pakaian dalam indah, yang tergeletak di tepi tempat tidurnya. Renda merah muda yang membentuk siluet menggoda. Hatiku bergejolak, membayangkan bagaimana pakaian dalam itu akan membungkus tubuhnya. Seolah kerasukan, tanganku terulur membelai bokongnya, merasakan kekenyalan dan kelembutan kulitnya. Tina terpaku sejenak, lalu rona merah muncul di wajahnya. Dia berkata lirih dengan nada malu-malu, "Paman, apa yang sedang Paman lakukan?" Aku terpesona oleh sikapnya yang polos dan lugu ini, lalu sengaja menggodanya, "Pemalu sekali? Apa Tina belum pernah lakukan hal gini?" Tina menatapku dengan tatapan bingung. Tatapan sucinya itu justru membuat bagian bawah perutku menegang, rasanya area selangkanganku akan segera meledak. "Benar-benar belum pernah? Kamu sudah dewasa, lho. Kalau nggak pernah bersentuhan dengan pria sedikit pun, bagaimana kamu bisa punya pacar nantinya?" Mendengar ucapanku, Tina terlihat jelas merasa gugup. Sepertinya dia sangat memikirkan hal ini. "Mau bagaimana lagi Paman, nggak ada yang pernah mengajariku apa yang harus dilakukan." Dia terlihat begitu lemah, seolah-olah boleh diperlakukan apa saja. Aku pun menggerakkan tanganku yang berada di bokongnya, mulai menjelajahi area yang padat dan lembut itu. Dia tersentak dan refleks ingin berteriak, tetapi aku segera menutup mulutnya dengan tanganku. "Sst, bukannya Paman ini juga pria? Jadilah gadis penurut, Paman sendiri yang akan mengajarimu." Matanya memancarkan binar kejutan tapi senang, penolakan yang sebelumnya ada kini melunak dan menjadi patuh. Akhirnya, dia mengangguk. Tanganku meremas kuat salah satu belahan bokongnya, mempermainkannya sesuka hati. Ujung jariku samar-samar menyapu ujung roknya, mencoba mencari celah di antara kedua belah bokongnya. Mulutnya yang kututup, mengeluarkan rintihan tertahan. Saat jemariku menarik pinggiran celana dalamnya lalu melepaskannya hingga berbunyi "peletak", dia refleks gemetar. Mulutnya sedikit terbuka, dan ujung lidahnya yang lembut menyentuh telapak tanganku. Seketika, bagian bawah tubuhku membentuk tonjolan yang sangat jelas. Celanaku pun tak sanggup lagi menyembunyikan keperkasaan alat itu. Aku berdiri sangat dekat dengannya, membuat tonjolan itu menekan langsung ke roknya. Dia tertegun, menunduk menatap bagian itu, dan wajahnya seketika memerah padam.
Placements and targeting
More ads from Reading novles
"Sis, tolong bantu aku puasin suamiku, aku benar-benar sudah nggak tahan lagi." Istriku belakangan ini tidak sanggup menahan gempuran dariku, dia menangis lalu lari mencari sahabatnya untuk mengadu. Demi meredakan hubungan antara aku dan istriku, sahabatnya datang sendirian ke rumahku. Dia mengenakan gaun pendek ketat yang seksi, lekuk dadanya tampak jelas menonjol. "Dengar-dengar kamu ganas sekali, ya? Biar kucoba dulu, besar atau nggak." Bab 1 Namaku Wira. Memasuki usia pernikahan tahun kelima, tubuhku tiba-tiba mengalami pubertas kedua. Ukuran kemaluanku jadi sangat besar dan hasratku juga semakin menggelora. Setiap hari, aku bisa meminta jatah tujuh sampai delapan kali. Awalnya, istriku sangat gembira melihat perubahanku. Setiap malamnya, dia sampai kelelahan setelah bersenang-senang. Namun perlahan-lahan, perkembanganku semakin besar dan istriku mulai tidak sanggup mengimbangiku. "Jangan masukkin lagi. Kalau dipaksa terus bakal meledak, nih." Istriku memohon sambil menangis kepadaku. Akan tetapi, aku benar-benar menderita menahan nafsu. Kemudian, aku pun mendorongnya dengan paksa ke dinding. Akhirnya, hari ini dia tidak sanggup lagi menahan semua ini. Dia menangis meraung-raung meminta cerai dariku. Aku tidak menyetujuinya, sehingga dia minggat dan menginap di rumah sahabatnya selama beberapa hari. Aku benar-benar menderita menahan diri. Selama seharian, aku terus merasa kemaluanku sangat keras hingga tidak bertahan lagi. Saat sahabatnya mendengar perubahanku ini, dia jadi sangat tertarik. Demi memperbaiki hubungan pernikahan kami, dia berinisiatif datang ke rumahku untuk menasihatiku. Ketika dia datang malam itu, aku sedang tersiksa karena menahan hasrat. Bel pintu berbunyi. Aku mengira istriku akhirnya pulang. Gelora yang telah kutahan selama berhari-hari akhirnya bisa kulampiaskan dengan sepuasnya. Namun, baru saja pintu dibuka, orang yang berdiri di luar ternyata adalah sahabatnya, Bilqis. Dia mengenakan gaun terusan seksi berwarna hitam. Payudaranya yang besar dan montok itu tampak begitu menggoda. Rok itu hampir tidak menutupi bagian atas pahanya, kakinya yang panjang dan ramping terbungkus stoking hitam, memperlihatkan area di mana pinggiran renda hitam bertemu dengan kulitnya. Mataku terbelalak menatapnya. Tubuhku langsung bereaksi. Tadinya kukira yang pulang itu adalah istriku, sehingga aku hanya mengenakan celana pendek yang longgar. Bagian depan celanaku tampak menggembung dan ukurannya sangat besar. Melihat hal itu, Bilqis langsung terperangah. "Kamu benaran lagi puber kedua, ya! Ukurannya lebih besar dari botol bir!" Sebenarnya, Bilqis adalah seorang wanita yang hasratnya tidak terpenuhi dengan puas. Penampilannya tampak memesona, tetapi dia malah menikah dengan seorang pria tua yang kaya. Dengar-dengar dari istriku, pria tua itu terlalu semena-mena saat masih muda. Oleh karena itu, sekarang fungsi tubuhnya telah menurun drastis dan sama sekali tidak bisa memuaskan Bilqis. Alhasil, Bilqis sekarang sering menghamburkan uang untuk mencari model pria. Aku melambaikan tangan menyuruhnya masuk. Dia duduk di sofa dengan satu kaki yang terangkat. Dasar sepatu hak tingginya yang berwarna merah membuatnya tampak semakin menawan. "Bilqis, kenapa kamu datang ke sini? Mana istriku?" tanyaku sambil menuangkan segelas air dan menyerahkannya kepada Bilqis. Dia minum seteguk air, lalu berkata padaku, "Kamu sih, kuatnya kebangetan. Sampai sekarang Shila masih nggak berani pulang." "Hari ini aku datang untuk nasihati kamu. Jangan terlalu kuat setiap kali berhubungan. Shila itu wanita lembut, mana bisa tahan sama kekuatanmu itu." Saat minum, dadanya bergoyang ke atas dan ke bawah. Payudaranya yang montok itu bergetar dengan hebat. Darahku mendidih melihat pemandangan itu. Ukuran payudaranya lebih besar dari punya istriku. Ingin sekali rasanya aku meremasnya sekali. Aku menghela napas, lalu duduk di seberang Bilqis. "Bukannya aku terlalu bertenaga. Sejak puber kedua ini, aku jadi kepengin terus. Kalau nggak disalurkan sehari saja, rasanya tersiksa sekali." Seketika, Bilqis menjadi penasaran dan mendekatkan tubuhnya. "Pria punya puber kedua ya? Kalau begitu, apa ukuranmu itu jadi lebih besar dari sebelumnya? Boleh nggak aku lihat?" Bilqis menatapku dengan tulus, tidak terlihat seperti sedang berbohong. Hatiku berdegup kencang. Apa Bilqis ini nggak terlalu berani, ya? Memangnya benda begituan bisa ditunjukkan sembarangan? "I ... ini rasanya nggak baik deh," ucapku dengan gugup. Namun, dalam hatiku sudah kacau balau. Bilqis berujar dengan santai, "Kenapa takut sih ditunjukkan sama aku? Punyamu ini termasuk keajaiban. Aku cuma pengin melihatnya langsung sendiri." Berhubung dia terus-menerus memintanya, aku pun tidak lagi menahan diri. Di hadapannya, aku menanggalkan celanaku perlahan-lahan. Belum pernah aku menunjukkan tubuh bagian bawahku kepada wanita lain. Perasaan ini benar-benar seru. Ditatap dengan sorot mata yang berkobar seperti itu, entah mengapa aku merasa diriku semakin perkasa. Sesuai dugaan, Bilqis memang wanita yang sering bersenang-senang dengan model pria. Menghadapi situasi seperti ini, dia tetap bisa mengendalikan diri dan bahkan menunjukkan sedikit hasratnya. Dia menelan ludah dan memujiku, "Pertumbuhanmu besar sekali ya, lebih besar dari semua model pria yang pernah kupesan. Punyammu ini benaran nggak? Aku boleh pegang sebentar?" AKu sama sekali tidak menyangka dia akan mengajukan permintaan seperti itu. Seketika, hatiku jadi terasa antusias dan akhirnya aku mengangguk menyetujuinya.
"Sis, tolong bantu aku puasin suamiku, aku benar-benar sudah nggak tahan lagi." Istriku belakangan ini tidak sanggup menahan gempuran dariku, dia menangis lalu lari mencari sahabatnya untuk mengadu. Demi meredakan hubungan antara aku dan istriku, sahabatnya datang sendirian ke rumahku. Dia mengenakan gaun pendek ketat yang seksi, lekuk dadanya tampak jelas menonjol. "Dengar-dengar kamu ganas sekali, ya? Biar kucoba dulu, besar atau nggak." Bab 1 Namaku Wira. Memasuki usia pernikahan tahun kelima, tubuhku tiba-tiba mengalami pubertas kedua. Ukuran kemaluanku jadi sangat besar dan hasratku juga semakin menggelora. Setiap hari, aku bisa meminta jatah tujuh sampai delapan kali. Awalnya, istriku sangat gembira melihat perubahanku. Setiap malamnya, dia sampai kelelahan setelah bersenang-senang. Namun perlahan-lahan, perkembanganku semakin besar dan istriku mulai tidak sanggup mengimbangiku. "Jangan masukkin lagi. Kalau dipaksa terus bakal meledak, nih." Istriku memohon sambil menangis kepadaku. Akan tetapi, aku benar-benar menderita menahan nafsu. Kemudian, aku pun mendorongnya dengan paksa ke dinding. Akhirnya, hari ini dia tidak sanggup lagi menahan semua ini. Dia menangis meraung-raung meminta cerai dariku. Aku tidak menyetujuinya, sehingga dia minggat dan menginap di rumah sahabatnya selama beberapa hari. Aku benar-benar menderita menahan diri. Selama seharian, aku terus merasa kemaluanku sangat keras hingga tidak bertahan lagi. Saat sahabatnya mendengar perubahanku ini, dia jadi sangat tertarik. Demi memperbaiki hubungan pernikahan kami, dia berinisiatif datang ke rumahku untuk menasihatiku. Ketika dia datang malam itu, aku sedang tersiksa karena menahan hasrat. Bel pintu berbunyi. Aku mengira istriku akhirnya pulang. Gelora yang telah kutahan selama berhari-hari akhirnya bisa kulampiaskan dengan sepuasnya. Namun, baru saja pintu dibuka, orang yang berdiri di luar ternyata adalah sahabatnya, Bilqis. Dia mengenakan gaun terusan seksi berwarna hitam. Payudaranya yang besar dan montok itu tampak begitu menggoda. Rok itu hampir tidak menutupi bagian atas pahanya, kakinya yang panjang dan ramping terbungkus stoking hitam, memperlihatkan area di mana pinggiran renda hitam bertemu dengan kulitnya. Mataku terbelalak menatapnya. Tubuhku langsung bereaksi. Tadinya kukira yang pulang itu adalah istriku, sehingga aku hanya mengenakan celana pendek yang longgar. Bagian depan celanaku tampak menggembung dan ukurannya sangat besar. Melihat hal itu, Bilqis langsung terperangah. "Kamu benaran lagi puber kedua, ya! Ukurannya lebih besar dari botol bir!" Sebenarnya, Bilqis adalah seorang wanita yang hasratnya tidak terpenuhi dengan puas. Penampilannya tampak memesona, tetapi dia malah menikah dengan seorang pria tua yang kaya. Dengar-dengar dari istriku, pria tua itu terlalu semena-mena saat masih muda. Oleh karena itu, sekarang fungsi tubuhnya telah menurun drastis dan sama sekali tidak bisa memuaskan Bilqis. Alhasil, Bilqis sekarang sering menghamburkan uang untuk mencari model pria. Aku melambaikan tangan menyuruhnya masuk. Dia duduk di sofa dengan satu kaki yang terangkat. Dasar sepatu hak tingginya yang berwarna merah membuatnya tampak semakin menawan. "Bilqis, kenapa kamu datang ke sini? Mana istriku?" tanyaku sambil menuangkan segelas air dan menyerahkannya kepada Bilqis. Dia minum seteguk air, lalu berkata padaku, "Kamu sih, kuatnya kebangetan. Sampai sekarang Shila masih nggak berani pulang." "Hari ini aku datang untuk nasihati kamu. Jangan terlalu kuat setiap kali berhubungan. Shila itu wanita lembut, mana bisa tahan sama kekuatanmu itu." Saat minum, dadanya bergoyang ke atas dan ke bawah. Payudaranya yang montok itu bergetar dengan hebat. Darahku mendidih melihat pemandangan itu. Ukuran payudaranya lebih besar dari punya istriku. Ingin sekali rasanya aku meremasnya sekali. Aku menghela napas, lalu duduk di seberang Bilqis. "Bukannya aku terlalu bertenaga. Sejak puber kedua ini, aku jadi kepengin terus. Kalau nggak disalurkan sehari saja, rasanya tersiksa sekali." Seketika, Bilqis menjadi penasaran dan mendekatkan tubuhnya. "Pria punya puber kedua ya? Kalau begitu, apa ukuranmu itu jadi lebih besar dari sebelumnya? Boleh nggak aku lihat?" Bilqis menatapku dengan tulus, tidak terlihat seperti sedang berbohong. Hatiku berdegup kencang. Apa Bilqis ini nggak terlalu berani, ya? Memangnya benda begituan bisa ditunjukkan sembarangan? "I ... ini rasanya nggak baik deh," ucapku dengan gugup. Namun, dalam hatiku sudah kacau balau. Bilqis berujar dengan santai, "Kenapa takut sih ditunjukkan sama aku? Punyamu ini termasuk keajaiban. Aku cuma pengin melihatnya langsung sendiri." Berhubung dia terus-menerus memintanya, aku pun tidak lagi menahan diri. Di hadapannya, aku menanggalkan celanaku perlahan-lahan. Belum pernah aku menunjukkan tubuh bagian bawahku kepada wanita lain. Perasaan ini benar-benar seru. Ditatap dengan sorot mata yang berkobar seperti itu, entah mengapa aku merasa diriku semakin perkasa. Sesuai dugaan, Bilqis memang wanita yang sering bersenang-senang dengan model pria. Menghadapi situasi seperti ini, dia tetap bisa mengendalikan diri dan bahkan menunjukkan sedikit hasratnya. Dia menelan ludah dan memujiku, "Pertumbuhanmu besar sekali ya, lebih besar dari semua model pria yang pernah kupesan. Punyammu ini benaran nggak? Aku boleh pegang sebentar?" AKu sama sekali tidak menyangka dia akan mengajukan permintaan seperti itu. Seketika, hatiku jadi terasa antusias dan akhirnya aku mengangguk menyetujuinya.
"Paman ... besar sekali, apa semua pria begini ...?" Wajah keponakan istriku merona merah saat aku menyentuhnya. Tangannya yang halus terasa kaku saat meraba alat milikku dari balik celana. Aku menatap tubuhnya yang mulai bereaksi akibat belaianku, lalu sengaja menggodanya, "Bukan hanya begini, pria juga akan memasukkan alat ini ke lubang bawahmu, lho." Selesai berbicara, aku sengaja menyentakkan bagian bawah tubuhku ke telapak tangannya yang lembut. Tak disangka, tangan satunya menyingkap ujung roknya sendiri. Sementara tangan yang lain menarik pakaianku dan menggenggam alat yang sudah menegang keras itu. Sesuatu yang besar dan kokoh itu menekan perut bawahnya. Wajahnya merah padam. Dia memegang alat itu, mengesekkannya perlahan di perut bawahnya, bahkan mungkin mengarah lebih ke bawah lagi .... Bab 1 Aku adalah seorang dosen. Awalnya aku memiliki kehidupan pernikahan yang bahagia dan sempurna, tetapi beberapa hari terakhir ini aku merasa sangat tertekan. Hal ini dikarenakan istriku yang bertubuh mungil, sepertinya tidak sanggup menahan fisikku yang kuat dan "alat besar" milikku yang bahkan lebih perkasa daripada pria Afrika. Setiap kali kami berhubungan intim, sebelum aku sempat merasa puas, dia sudah menutupi bagian bawahnya dan memohon agar aku berhenti. Istriku, Marsha Gilda, akhirnya memutuskan untuk pisah ranjang denganku. Padahal usia pernikahan kami belum genap tiga bulan, tetapi dia sering sekali pulang ke rumah orang tuanya, bahkan sempat melontarkan keinginan untuk bercerai. Keponakannya yang baru masuk kuliah pun sampai tahu tentang ketidakharmonisan hubungan ranjangku dengan Marsha. Tina Devinka, keponakan istriku, tahun ini baru masuk semester satu dan kebetulan diterima di universitas tempatku mengajar. Saat awal perkuliahan, tentu saja aku sebagai paman, harus membantunya mengurus keperluannya. Saat aku mengetuk pintu dan masuk ke kamar asramanya, aku melihatnya sedang menunduk merapikan koper. Tubuhnya yang muda sedikit membungkuk. Menampakkan bokong yang padat dan bulat, yang bergerak perlahan, membuat jantungku berdesir. Gadis itu lalu mendongak dan melihatku. Dia tampak sedikit terkejut, tetapi segera kembali tenang dan menyapa dengan manis, "Paman!" Tina tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 160 cm. Kulitnya putih bersih dengan tubuh yang ramping. Rambut panjangnya diikat asal, memancarkan vitalitas anak muda. Dia mengenakan kaus longgar dan rok pendek yang nyaris hanya menutupi bokongnya, hingga sudut celana dalamnya hampir terlihat samar. Sepasang kakinya di bawah sana terlihat jenjang dan cantik. Kulit putihnya membuat kerongkonganku terasa kering. Dadanya yang berukuran 36D terlihat menonjol di balik baju, pantas saja dia langsung diakui sebagai primadona kampus di forum diskusi universitas. Pasti karena akhir-akhir ini istriku tidak memuaskanku, sehingga melihat Tina saja sudah membuatku berimajinasi liar. Terutama saat aku tidak sengaja melihat sehelai pakaian dalam indah, yang tergeletak di tepi tempat tidurnya. Renda merah muda yang membentuk siluet menggoda. Hatiku bergejolak, membayangkan bagaimana pakaian dalam itu akan membungkus tubuhnya. Seolah kerasukan, tanganku terulur membelai bokongnya, merasakan kekenyalan dan kelembutan kulitnya. Tina terpaku sejenak, lalu rona merah muncul di wajahnya. Dia berkata lirih dengan nada malu-malu, "Paman, apa yang sedang Paman lakukan?" Aku terpesona oleh sikapnya yang polos dan lugu ini, lalu sengaja menggodanya, "Pemalu sekali? Apa Tina belum pernah lakukan hal gini?" Tina menatapku dengan tatapan bingung. Tatapan sucinya itu justru membuat bagian bawah perutku menegang, rasanya area selangkanganku akan segera meledak. "Benar-benar belum pernah? Kamu sudah dewasa, lho. Kalau nggak pernah bersentuhan dengan pria sedikit pun, bagaimana kamu bisa punya pacar nantinya?" Mendengar ucapanku, Tina terlihat jelas merasa gugup. Sepertinya dia sangat memikirkan hal ini. "Mau bagaimana lagi Paman, nggak ada yang pernah mengajariku apa yang harus dilakukan." Dia terlihat begitu lemah, seolah-olah boleh diperlakukan apa saja. Aku pun menggerakkan tanganku yang berada di bokongnya, mulai menjelajahi area yang padat dan lembut itu. Dia tersentak dan refleks ingin berteriak, tetapi aku segera menutup mulutnya dengan tanganku. "Sst, bukannya Paman ini juga pria? Jadilah gadis penurut, Paman sendiri yang akan mengajarimu." Matanya memancarkan binar kejutan tapi senang, penolakan yang sebelumnya ada kini melunak dan menjadi patuh. Akhirnya, dia mengangguk. Tanganku meremas kuat salah satu belahan bokongnya, mempermainkannya sesuka hati. Ujung jariku samar-samar menyapu ujung roknya, mencoba mencari celah di antara kedua belah bokongnya. Mulutnya yang kututup, mengeluarkan rintihan tertahan. Saat jemariku menarik pinggiran celana dalamnya lalu melepaskannya hingga berbunyi "peletak", dia refleks gemetar. Mulutnya sedikit terbuka, dan ujung lidahnya yang lembut menyentuh telapak tanganku. Seketika, bagian bawah tubuhku membentuk tonjolan yang sangat jelas. Celanaku pun tak sanggup lagi menyembunyikan keperkasaan alat itu. Aku berdiri sangat dekat dengannya, membuat tonjolan itu menekan langsung ke roknya. Dia tertegun, menunduk menatap bagian itu, dan wajahnya seketika memerah padam.
Keep exploring
Find more ads like this
Search millions of real ads by keyword, niche and format, and save the winners to your swipe file.
